Menurutnya, keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah lainnya untuk menghadirkan layanan publik yang lebih dekat, mudah diakses, dan responsif melalui platform digital.
“Inisiatifnya sangat baik, sangat useful, juga impactful untuk mendorong transformasi digital dalam layanan publik,” tuturnya.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi.
Wamen Nezar menegaskan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial generatif membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik.
“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang otentik,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai kehadiran platform verifikasi informasi seperti Jalahoaks menjadi instrumen penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap informasi palsu.
Selain itu, Wamen Nezar juga mengapresiasi program Anugerah Bug Bounty yang dinilai berkontribusi memperkuat budaya keamanan siber nasional.
Program tersebut dinilai mampu melibatkan para white hacker untuk mengidentifikasi kerentanan sistem sekaligus mendorong pemanfaatan kemampuan digital secara positif dan produktif.
“Kita bisa mendapat input soal kerentanan sistem yang kita bangun sekaligus mendidik generasi muda menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang positif,” katanya.