Sebelumnya, Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani juga menyoroti bahwa tekanan rupiah yang telah menembus level psikologis baru di atas Rp17.500 per dolar AS memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan biaya usaha dan ketidakpastian bagi pelaku bisnis di dalam negeri, khususnya sektor manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi ini menyebabkan industri manufaktur mengalami tekanan berat, di mana data menunjukkan sektor tersebut terkontraksi hingga 1,01% pada awal tahun 2026, sementara sektor jasa masih mencatat pertumbuhan.
APINDO pun mendesak pemerintah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.