Beranda Ekonomi Rupiah Melemah ke Rp 17.890 di Tengah Lonjakan Impor dan Ketegangan Global

Rupiah Melemah ke Rp 17.890 di Tengah Lonjakan Impor dan Ketegangan Global

Para analis menyebut bahwa sentimen eksternal masih menjadi pemicu utama pelemahan rupiah.

0
Ilustrasi

CARAPANDANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan awal pekan ini. Data pasar mencatat, rupiah sempat bergerak di level Rp 17.890 per dolar AS, melanjutkan tren fluktuatif sepanjang Mei 2026 akibat tekanan inflasi dan ketidakpastian global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah tajam 0,44% atau 78 poin ke level Rp 17.883 pada perdagangan Selasa (2/6/2026), setelah sehari sebelumnya sempat menunjukkan penguatan.

Posisi ini mendekati level Rp 17.890 yang menjadi sorotan pasar. Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya kembali dolar AS di pasar global.

Para analis menyebut bahwa sentimen eksternal masih menjadi pemicu utama pelemahan rupiah.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memanas kembali, khususnya terkait perundingan damai Iran dengan AS, serta rencana penutupan Selat Hormuz, telah mendorong pelaku pasar beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, sebelumnya juga menilai bahwa ketidakpastian global, termasuk perlambatan ekonomi dunia dan potensi stagflasi, menjadi faktor dominan yang memicu volatilitas pasar keuangan sepanjang 2026.

Selain faktor eksternal, tekanan dari dalam negeri juga turut membebani rupiah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut tajam pada April 2026 menjadi hanya US$ 90 juta, turun drastis dari posisi Maret 2026 yang mencapai US$ 3,32 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here