CARAPANDANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berakhir melemah tajam pada perdagangan Senin (6/4/2026), ditutup di level Rp 17.035 per dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, rupiah anjlok 55 poin atau 0,32% dari posisi penutupan pekan lalu di Rp 16.980 per dolar AS. Bahkan pada perdagangan pagi hari, dolar AS sempat menembus level Rp 17.009.
Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Index (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah di level Rp 17.037 per dolar AS, turun 0,13% dari posisi sebelumnya.
Para analis menilai pelemahan rupiah ini terutama dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas. Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4/2026).
"Investor fokus pada tenggat waktu Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Teluk," ujar analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, kepada Kompas.com.
Konflik tersebut turut mendorong lonjakan harga minyak mentah global hingga menyentuh kisaran US$ 110 - US$ 116 per barel, yang secara logis menekan neraca pembayaran Indonesia melalui kenaikan biaya impor energy.