Airlangga mengatakan harga minyak dunia saat itu sempat menyentuh 140 dolar AS per barel dan berdampak pada kenaikan inflasi hingga 27 persen.
Menurut dia, jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, situasi makro ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih baik dengan fundamental yang lebih kuat serta depresiasi rupiah yang berada di kisaran 5 persen, lebih rendah dibandingkan berbagai kasus di masa lalu.
"Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya.
Dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan," kata Airlangga.
Menurut dia, Presiden juga meminta pemerintah memantau regulasi untuk memperkuat sektor keuangan dan menjaga kehati-hatian perbankan nasional.
Selain itu, pemerintah akan mengkaji penguatan permodalan perbankan mengingat jumlah bank di Indonesia cukup banyak.
"Presiden meminta kami bersama Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat," kata Airlangga.
Sementara itu, Burhanuddin Abdullah mengatakan pertemuan tersebut membahas pengalaman masa lalu yang dapat menjadi pelajaran dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini.