menekankan kembali bahwa keselamatan dan keamanan peacekeepers PBB tidak dapat ditawar. Setiap tindakan yang membahayakan mereka merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban,” sebut pernyataan itu.
Pemerintah Indonesia kembali menyerukan penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab, dan menegaskan bahwa akuntabilitas penuh harus ditegakkan.
Indonesia mengatakan bahwa insiden itu terjadi di tengah serangan Israel ke Lebanon, dan operasi militer Israel yang terus berlanjut, termasuk pernyataan untuk mempertahankan keberadaan Israel. Realitas ini berisiko mendestabilisasi situasi dan terus membahayakan personel pasukan perdamaian PBB.
Pemerintah Indonesia pun berharap agar para personel yang terluka segera pulih dan menyampaikan solidaritas kepada para personel beserta keluarganya.
Personel pasukan perdamaian UNIFIL asal Indonesia, yakni Praka Dua Farizal Rhomadhon, gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3).
Tepat keesokan harinya pada Senin (30/3), Indonesia kembali kehilangan lagi dua personelnya di UNIFIL akibat konvoi pasukan yang mereka kawal diserang. Dua personel yang gugur dalam serangan tersebut ialah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.