Sebagian besar koleksi tersebut merupakan warisan keluarga, baik dari keluarga Dade maupun keluarga istrinya. Sebagian lainnya merupakan pemberian dari anggota keluarga atau barang yang dibeli Dade sendiri. Koleksi bernuansa Tionghoa itu kemudian berpadu dengan sejumlah benda dengan sentuhan Eropa, membentuk interior yang khas tanpa menghilangkan karakter rumah lamanya.
"Barang-barang yang ada di sini banyak yang memang punya keluarga. Ada yang punya saya, ada juga disumbangkan oleh keluarga kami yang lainnya. Kami tampung semuanya. Memanfaatkan barang-barang yang sudah ada," ujar Dade.
Keberadaan benda-benda antik tersebut tidak hanya memperkuat suasana klasik Warung Roekoen, tetapi juga menjadi bagian dari cerita keluarga yang melekat pada bangunan tersebut.
Meski kental dengan unsur budaya Tionghoa, Warung Roekoen terbuka bagi pengunjung dari berbagai latar belakang.
Foto yang diabadikan pada 15 Agustus 2026 ini memperlihatkan daftar menu di Warung Roekoen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. (Xinhua/Poppy Amelia S.)
RASA RUMAH DARI MASA KECIL
Jika suasananya membawa pengunjung bernostalgia melalui benda-benda lama, makanan di Warung Roekoen membawa nostalgia melalui rasa.
Menu yang disajikan mengusung konsep masakan rumahan. Bagi Dade, makanan tersebut bukan sekadar menu untuk dijual, melainkan makanan yang memiliki kedekatan dengan kehidupannya sejak kecil.