CARAPANDANG - Tangan Putra sebenarnya sudah hampir menyerah. Saat mencapai bagian atas dinding pada babak final World Climbing Series Praha 2026, lengan Putra Tri Ramadani mulai terasa berat akibat kelelahan.
Dalam bahasa para pemanjat, kondisi itu disebut pump, yakni kondisi ketika otot lengan dan jari mengalami kelelahan akibat terus-menerus menahan beban tubuh saat memanjat. Saat kondisi ini terjadi, kemampuan atlet untuk mencengkeram pegangan biasanya menurun drastis.
Akan tetapi, pemuda asal Jawa Timur itu rupanya mampu bertahan beberapa gerakan lebih lama daripada tujuh pemanjat dunia yang berdiri bersamanya di final. Nyatanya, ketika perlombaan berakhir, ia mencatatkan skor 43, cukup untuk mengalahkan atlet Jepang Neo Suzuki dan legenda panjat tebing Austria Jakob Schubert.
Minggu malam di Praha itu, Putra mewakili Indonesia menenteng medali emas nomor lead World Climbing Series.
"Ini adalah final kedua saya dan emas pertama, tentu sangat bahagia karena rute di final sangat sulit terutama di bagian atas sampai tangan saya pump," kata Putra, dikutip dari keterangan resmi PP FPTI.
Menariknya, orang yang membuat sejarah tersebut bukan atlet senior dengan segudang pengalaman, melainkan laki-laki yang masih berstatus sebagai mahasiswa semester empat.
Nama lengkapnya Putra Tri Ramadani. Teman-temannya lebih mengenalnya dengan panggilan Srondeng. Ia adalah mahasiswa jurusan Manajemen di Universitas Muhammadiyah Surabaya.