Karbohidrat utama pada mi instan berasal dari tepung terigu olahan yang termasuk karbohidrat sederhana. Jika dikonsumsi terlalu sering, jenis karbohidrat ini dapat menyebabkan lonjakan gula darah berulang yang lama-kelamaan berpotensi memicu resistensi insulin, salah satu faktor risiko diabetes tipe 2.
Selain itu, beberapa penelitian juga menemukan bahwa konsumsi mie instan lebih dari dua kali seminggu dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan. Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi, seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tidak normal, dan penumpukan lemak di perut, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.
5. Kesehatan pencernaan menjadi kurang optimal
Mi instan umumnya mengandung sangat sedikit serat karena dibuat dari tepung terigu olahan. Padahal, serat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan saluran cerna, membantu melancarkan buang air besar, menjaga keseimbangan bakteri baik di usus, serta mendukung kesehatan pencernaan secara keseluruhan.
Jika tubuh terus-menerus kekurangan serat akibat terlalu sering makan mi instan, risiko sembelit dan gangguan kesehatan usus dapat meningkat. Dalam jangka panjang, pola makan rendah serat juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2 dan kanker usus besar, terutama jika tidak diimbangi konsumsi buah, sayur, dan makanan tinggi serat lainnya.