Dua jam tanpa gawai bukanlah soal waktu, melainkan tentang arah. Ia mengingatkan bahwa di tengah kemajuan teknologi, manusia tetap membutuhkan ruang untuk hadir secara utuh tanpa perantara layar.
Jika dijalankan dengan kesadaran bersama, gerakan ini tidak hanya melindungi anak-anak dari risiko digital, tetapi juga memulihkan fondasi sosial yang paling dasar, yakni keluarga. Dan dari keluarga yang kuat, kota yang sehat dapat tumbuh.
Pertanyaannya kini bukan apakah dua jam itu cukup, tetapi apakah kita benar-benar siap menggunakannya untuk kembali saling terhubung. dilansir antaranews.com