Dengan menghapus distraksi digital untuk sementara, kebijakan ini membuka peluang bagi interaksi yang lebih otentik. Orang tua dapat kembali mengenal keseharian anak-anaknya, sementara anak-anak memiliki ruang untuk bercerita tanpa terganggu notifikasi.
Lebih jauh, kebijakan ini juga menyentuh aspek pembentukan karakter. Anak belajar tentang batasan, disiplin, dan keseimbangan dalam menggunakan teknologi. Mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga individu yang mampu mengendalikan penggunaan tersebut.
Namun, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada konsistensi. Tanpa komitmen dari orang tua, aturan hanya akan menjadi formalitas. Bahkan, praktik seperti “sharenting" atau membagikan kehidupan anak-anak secara berlebihan di media sosial menunjukkan bahwa orang tua pun perlu mengoreksi cara mereka berinteraksi dengan dunia digital.
Di sinilah pentingnya literasi digital keluarga. Orang tua tidak hanya dituntut mengawasi, tetapi juga memahami. Mereka perlu mengenal platform yang digunakan anak, memahami risiko yang ada, dan mampu menjadi pendamping yang relevan.
Kebijakan ini juga memperlihatkan pendekatan kolaboratif. Sekolah, komunitas, hingga tingkat kampung dilibatkan dalam membangun ekosistem yang mendukung. Kampung Pancasila, misalnya, dihidupkan kembali sebagai ruang edukasi dan aktivitas alternatif bagi anak-anak.