Meski demikian, sejauh mana Piala Dunia 2026 akan mampu menyihir perhatian masyarakat Indonesia? Peraih gelar doktor dari St. Andrews University, Inggris, tersebut punya pendapat sendiri mengingat lanskap teknologi saat ini yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
"Saat ini, fokus masyarakat mungkin tidak hanya pada Piala Dunia saja, berbeda dibandingkan dahulu ketika kita hanya bisa menyaksikannya di televisi. Meski platform online menjanjikan kecepatan dan keleluasaan informasi, namun hal ini juga menyuguhkan tantangan berupa derasnya beragam informasi melalui puluhan kanal berbeda. Euforia Piala Dunia akan bersaing dengan hal yang lebih relevan bagi kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti kenaikan BBM, kasus korupsi, ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah, dan lain-lain," ujarnya.
Menurutnya, dalam era digital entertainment saat ini, perhatian masyarakat pun berpotensi terbagi karena banyaknya opsi jenis hiburan yang bisa dikustomisasi dan dipilih masyarakat secara instan, seperti YouTube, Netflix, Disney, atau platform lainnya.
"Sejauh mana Piala Dunia akan memuncaki trending nanti bisa kita cek saja datanya, seperti dari media sosial," kata Buldan.
SUMBER INSPIRASI
Pada akhirnya, meski tanpa partisipasi tim Garuda, masyarakat Indonesia diharapkan dapat mengambil manfaat riil dari gelaran Piala Dunia 2026. Secara filosofis, capaian sang idola di Piala Dunia merupakan perwujudan dari siklus kompetensi yang dapat diterapkan untuk diri sendiri.