Sementara itu, dari internal organisasi penyelenggara pertandingan, menurut Buldan sangatlah penting untuk memastikan kecurangan tidak terjadi guna menghindari rasa ketidakadilan yang bisa memicu kemarahan, sesuai teori massa. Hal lain yang tak kalah penting menurutnya adalah edukasi terkait nilai sportivitas dan kompetisi.
"Teori intergroup conflict menyatakan bahwa ketika kompetisi ditingkatkan maka permusuhan atau hostility yang memicu agresi juga akan meningkat," jelas Buldan.
Oleh sebab itu, penting untuk mengingatkan bahwa olahraga tidaklah berkaitan dengan agresi, sehingga kekerasan bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan.
"Kepada pemain, ofisial, dan suporter, harus terus ditanamkan bahwa mendukung tim tidak berarti diperbolehkan melakukan kekerasan kepada sang lawan," lanjutnya.
ERA DIGITAL
Dibanding gelaran tahun-tahun sebelumnya, Piala Dunia 2026 dihelat pada era ketika teknologi informasi tengah merajai. Masyarakat pun semakin mudah untuk berbagi atau mengakses informasi real-time terkait Piala Dunia secara daring.
"Berkat jaringan kencang dan perangkat pintar, dunia mampu dengan cepat menyaksikan bagaimana slogan Fair Play dari Piala Dunia diwarnai kontroversi. Wasit asal Somalia ditolak masuk Amerika Serikat, demikian pula beberapa ofisial tim Iran yang mengalami pembatasan oleh tuan rumah," jelas Buldan.