Aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz juga bertambah walaupun belum ke level sebelum krisis, sehingga meredakan premi risiko geopolitik yang sempat mengerek harga emas. Kondisi fundamental yang mulai mereda ini diperkirakan akan terus menahan potensi kenaikan harga emas dalam waktu dekat.
Di samping faktor geopolitik, pasar juga menantikan sejumlah rilis data vital dari negara-negara maju. Pidato dari para pejabat Federal Reserve AS diperkirakan akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai ekspektasi suku bunga.
Inflasi AS pada bulan April yang tercatat di level 3,8% mengikis harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga memperkuat posisi tingkat imbal hasil riil yang bertindak sebagai batas atas penahan harga emas.
Rilis data tambahan seperti PMI manufaktur dan jasa global, angka produk domestik bruto Uni Eropa, serta data ketenagakerjaan Nonfarm Payroll AS akan menjadi indikator krusial dalam menentukan arah pasar.
Meskipun terdapat tekanan dalam jangka pendek, permintaan fisik dari institusi resmi terus menopang harga di batas bawah. Institusi finansial Goldman Sachs mempertahankan proyeksi harga emas pada tingkat US$5.400 per troy ons pada akhir tahun 2026, yang didasari oleh kelanjutan akumulasi dari bank sentral global.