CARAPANDANG - Di tengah kepungan hiruk-pikuk dunia dan paparan layar gadget yang tak henti-hentinya, seringkali kita merasa ada yang "kering" di dalam dada. Shalat terasa hambar, Al-Qur'an sulit menyentuh rasa, dan empati pun kian menipis. Jika kondisi ini terjadi, waspadalah: hati kita mungkin sedang mengalami kekerasan atau qaswatul qalb.
Resep Klasik dari Al-Hasan Al-Bashri Kondisi ini bukanlah penyakit baru. Dahulu, seorang pria mendatangi ulama besar tabiin, Al-Hasan al-Bashri, mengadukan betapa keras hatinya. Jawaban beliau sangat singkat namun tajam:
أَذِبْ قَسْوَةَ قَلْبِكَ بِالذِّكْرِ
"Lelehkanlah kerasnya hatimu dengan dzikir."
Dzikir bukan sekadar komat-kamit lisan, melainkan pengingat yang menghujam ke jiwa. Sebagaimana air mampu menjinakkan besi yang membara, dzikir adalah pendingin bagi jiwa yang terbakar oleh ambisi duniawi dan kecemasan yang tak berujung.
Ketika Ramadhan, di musim kebaikan, saat Anda menjauh dari kebisingan manusia dan berkhalwat (menyendiri) dengan Rabbmu— Anda menemukan ketenangan hati dan keteduhan jiwa yang tidak akan pernah Anda temukan di depan layar-layar (gadget/TV).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)