3. Bioindikator lingkungan
Dilansir laman Save The Frogs, sebagian besar katak membutuhkan habitat yang sesuai, baik di lingkungan darat maupun perairan. Katak juga memiliki kulit yang sangat permeabel yang dapat dengan mudah menyerap bakteri, bahan kimia, dan racun lainnya.
Semua sifat ini membuat katak sangat rentan terhadap gangguan lingkungan. Dengan demikian, katak dianggap sebagai bioindikator, dimana kesehatan katak dianggap sebagai indikasi kesehatan biosfer secara keseluruhan.
4. Mengendalikan hama dan penyakit
Jelas, sulit untuk memahami potensi ancaman yang tidak dapat dilihat manusia dengan mata telanjang, apalagi menanganinya secara efisien. Beruntung, katak dapat membantu manusia dalam hal ini.
Serangga sering kali menjadi pembawa utama penyakit parah atau bahkan fatal. Dijelaskan laman Toads N' Frogs, katak memakan nyamuk yang diketahui membawa penyakit seperti Malaria, Virus West Nile, Zika, dan Demam Berdarah. Katak juga memakan banyak serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya yang juga berpotensi menjadi pembawa bakteri, patogen, dan parasit yang dapat berbahaya bagi manusia dan hewan.
Seekor katak dapat memakan ribuan serangga, termasuk yang merupakan pembawa penyakit setiap musim. Jika populasi katak berkurang atau bahkan menghilang, ini akan membuat banyak serangga pembawa penyakit berkeliaran dan berpotensi menyebarkan banyak penyakit di berbagai wilayah.