Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun, mengalami kontraksi 3% dibandingkan tahun lalu.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara pada kuartal I-2026 mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4% yoy. Tingkat penyerapan anggaran mencapai 21,2%, lebih tinggi dari rata-rata historis sekitar 17% pada periode yang sama.
Akibat percepatan belanja yang melampaui pertumbuhan pendapatan, APBN mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menegaskan bahwa defisit tersebut merupakan bagian dari desain APBN, bukan karena melemahnya penerimaan.
Percepatan belanja di awal tahun sengaja dilakukan agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
"Ketika ada defisit, tidak perlu kaget karena memang APBN didesain dalam kondisi defisit," tegasnya.
Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 dapat mencapai 5,5% atau lebih tinggi seiring dorongan fiskal yang lebih awal.