Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin mengungkapkan rasa duka citanya atas bencana banjir besar di wilayah utara Pulau Sumatera yang menewaskan ratusan jiwa dan mengakibatkan kerusakan besar di berbagai titik.
Seorang warga Palestina memeriksa rumah-rumah yang hancur pascaserangan udara Israel di area permukiman Al-Zeitoun, Gaza City bagian timur, pada 20 November 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menelusuri sumber-sumber kayu yang terbawa banjir di Sumatera termasuk potensi berasal dari pembalakan dan praktik ilegal lainnya, mengingat sebelumnya terungkap sejumlah kasus peredaran kayu ilegal di wilayah terdampak.
Orang-orang menonton siaran proses pemakaman korban tewas dalam serangan udara Israel menggunakan sebuah layar besar di Sanaa, Yaman, pada 20 Oktober 2025. (Xinhua/Mohammed Mohammed)
Pemerintah Venezuela pada Sabtu (29/11) mengecam ancaman Amerika Serikat (AS) yang "berusaha memengaruhi kedaulatan wilayah udaranya", dan menyebutnya sebagai "agresi lain yang berlebihan, ilegal, dan tidak dapat dibenarkan terhadap rakyat Venezuela".
Orang-orang memegang kain dengan warna-warna bendera Palestina, dengan setiap kotak mewakili dan menghormati warga Palestina yang gugur selama konflik Gaza, dalam aksi unjuk rasa untuk memperingati Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina di Sea Point, Cape Town, Afrika Selatan, pada 29 November 2025. (Xinhua/Shakirah Thebus)
Penempatan sistem senjata ofensif Jepang di wilayah pulau-pulau perbatasan mengganggu keamanan dan stabilitas regional, serta menimbulkan ancaman serius bagi negara-negara tetangga, demikian disampaikan Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia, Maria Zakharova.
Helikopter Caracal H-225M milik TNI Angkatan Udara (AU) mendistribusikan bantuan bagi korban terdampak bencana alam di Sibolga, Sumatera Utara (Sumut) pada Jumat (28/11).
Kantor berita resmi Korea Utara (Republik Rakyat Demokratik Korea/RRDK) pada Jumat (28/11) mengecam latihan militer dan peningkatan persenjataan Amerika Serikat (AS)-Korea Selatan (Korsel), seraya menyebut Washington sebagai "pemimpin yang mengancam perdamaian dan stabilitas serta menghancurkan keseimbangan keamanan strategis."