CARAPANDANG.COM, ISTANBUL -- Gangguan rantai pasokan global dan kenaikan biaya energi, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik yang sedang terjadi di Timur Tengah, memicu inflasi berkepanjangan di perekonomian-perekonomian berkembang (emerging), demikian disampaikan oleh Murat Tufan, seorang analis yang berbasis di Istanbul.
Dampak konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang pada Minggu (7/6) memasuki hari ke-100, "meluas melampaui sektor energi dan memicu lonjakan tajam pada harga komoditas umum," ujar Tufan kepada Xinhua dalam sesi wawancara baru-baru ini.
"Biaya pupuk dan pengiriman terus meningkat akibat keterlambatan kapal di Selat Hormuz, sebuah chokepoint krusial bagi perdagangan global, yang pada akhirnya mendongkrak harga akhir barang kebutuhan sehari-hari," tuturnya.
"Inflasi ekspektasi" menjadi salah satu pendorong utama dari kesulitan ekonomi yang sedang terjadi di negara-negara berkembang, yang sangat rentan terhadap inflasi impor dan guncangan harga global, kata Tufan.
Orang-orang berbelanja di sebuah pasar lokal di Ankara, Turkiye, pada 5 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Mustafa Kaya)
Tufan menjelaskan bahwa para konsumen kini beranggapan harga barang-barang pasti akan lebih mahal pada hari esok, sebuah pola pikir yang melemahkan upaya yang lebih luas untuk mengendalikan inflasi.