“Sang Raja secara alami memperhatikan posisi Pemerintahannya yang telah lama dikenal dan terkenal mengenai pencegahan proliferasi nuklir,” demikian pernyataan juru bicara Istana Buckingham dikutip dari Newsweek.
Para pengamat menilai bahwa pernyataan Trump tersebut menempatkan Raja Charles III pada posisi yang canggung secara diplomatik.
Sebagai raja konstitusional, Charles III diharuskan menjaga netralitas politik dan tidak boleh menyatakan pandangan pribadi mengenai kebijakan luar negeri pemerintahannya.
Pernyataan Trump tentang dukungan Raja Charles III muncul di tengah ketegangan antara AS dan Pemerintah Inggris yang dipimpin Perdana Menteri Keir Starmer.
Sejak Maret 2026, Trump berulang kali menyatakan kekecewaannya karena Starmer menolak membantu AS dalam konflik dengan Iran.
Trump bahkan menyebut Starmer bukanlah "Winston Churchill" yang siap berperang, merujuk pada mantan Perdana Menteri Inggris yang memimpin negaranya selama Perang Dunia II.
Pada 1 April 2026, Trump mengancam akan menarik AS dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) setelah para sekutu Eropa menolak bergabung dalam perang AS-Israel melawan Iran, khususnya menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Konflik antara AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan gabungan, yang direspon Iran melalui serangan terhadap kepentingan AS di kawasan Teluk.