"Investasi ini akan berkontribusi tidak hanya pada pemulihan dan modernisasi industri kami, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi negara, keamanan energi di belahan bumi kita, dan keseimbangan yang lebih besar di pasar internasional," ujar Rodríguez.
Namun, sejumlah analis menyatakan keraguan tentang mekanisme implementasi kesepakatan.
Jorge Piñon dari University of Texas at Austin menyebut kesepakatan ini tidak konvensional dan mempertanyakan bagaimana aset minyak akan ditransfer.
"Kita tidak tahu bagaimana transfer itu akan terjadi. Apakah ini penjualan? Apakah ini pengalihan hak milik?" ujarnya.
Kesepakatan ini terjadi di tengah upaya AS mencari pasokan minyak tambahan di tengah perang dengan Iran yang memasuki bulan ketujuh.
Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS turun di bawah 300 juta barel pada awal Agustus, turun lebih dari 100 juta barel sejak awal tahun.
Menurut laporan, AS akan mengendalikan 55% dari hasil produksi efektif melalui kombinasi kepemilikan saham dan hak untuk membeli minyak mentah dengan biaya produksi.