CARAPANDANG - Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia membuat sekitar 560 juta anak di seluruh dunia terpapar setidaknya satu bulan tambahan panas berbahaya setiap tahun, dengan generasi yang lebih muda menanggung dampak yang tidak proporsional, kata Universitas Finlandia Timur (University of Eastern Finland/UEF) pada Kamis (27/8).
Studi yang dipimpin oleh Vrije Universiteit Brussel (VUB) dengan kontribusi para peneliti UEF tersebut menemukan bahwa sekitar 43 persen anak berusia 9 tahun ke bawah kini mengalami setidaknya 30 hari tambahan stres panas setiap tahun akibat perubahan iklim.
Jumlah tersebut dibandingkan dengan sekitar 190 juta orang berusia 60 hingga 69 tahun yang menghadapi peningkatan paparan panas yang sama, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances tersebut.
Penelitian tersebut berfokus pada panas lembap, yang sangat berbahaya karena kelembapan tinggi mengurangi kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat.
Anak-anak terutama sangat rentan karena tubuh mereka lebih cepat panas dibandingkan tubuh orang dewasa dan kurang efisien dalam mengatur suhu. Panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi dan sengatan panas, sementara paparan yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi proses belajar dan perkembangan kognitif, kata para peneliti.