Lalu mengakui biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai mahal menjadi salah satu penyebab utama calon mahasiswa mengurungkan niat melanjutkan kuliah.
Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak terjadi di seluruh perguruan tinggi negeri.
"Keempat informasinya biaya UKT mahal. UKT ini saya sampaikan tidak semuanya mahal. Ada kampus-kampus, contoh di dapil saya di Universitas Mataram, UKT itu ada yang Rp500 ribu per semester," katanya.
Reni Astuti mendorong kampus untuk menerapkan UKT berkeadilan sejak masa daftar ulang.
Ia menilai selama ini ruang sanggah atas penetapan UKT baru dibuka pada semester berjalan, sehingga calon mahasiswa kesulitan mendapatkan keringanan sejak awal.
"Kampus harus membuka ruang bagi peserta untuk mengajukan sanggahan dalam penetapan UKT dan IPI sejak awal masuk kuliah, sehingga peserta bisa mendapatkan keringanan sejak awal," jelas Reni.
Sebelumnya, Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) memaparkan bahwa dari total daya tampung awal 627.957 kursi melalui jalur SNBP, SNBT, dan seleksi mandiri, sebanyak 60.131 calon mahasiswa tercatat tidak melakukan daftar ulang pada tahun 2025.
Panitia SNPMB menjelaskan angka tersebut merupakan akumulasi dari seluruh jalur penerimaan, bukan hanya berasal dari satu jalur seleksi.