"Presiden Lee Jae Myung, karena alasan yang aneh, memilih untuk menggali kembali cerita dari tahun 2024 dan mengutip akun palsu yang secara keliru menyajikannya sebagai peristiwa terkini," kata pernyataan media sosial kementerian tersebut.
“Akun ini terkenal karena menyebarkan disinformasi anti-Israel dan kebohongan tentang Israel,” tambahnya.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan berupaya meredakan konfrontasi media sosial yang semakin memanas. Dalam sebuah pernyataan, kementerian tersebut mengatakan bahwa unggahan Lee – yang menyamakan dugaan pelanggaran Israel dengan kekejaman historis terhadap orang Yahudi dan Korea – merupakan bentuk seruan terhadap nilai hak asasi manusia universal. Tidak ada tendensi opini tentang masalah spesifik apa pun.
Namun pada Sabtu, Lee mengeluarkan pesan tajam lainnya di media sosial, mengomentari sebuah artikel berita yang merinci reaksi keras Israel terhadap pernyataannya.
“Sangat mengecewakan bahwa Anda bahkan tidak sekali pun merenungkan kritik dari orang-orang di seluruh dunia yang menderita dan berjuang karena tindakan anti-hak asasi manusia dan anti-hukum internasional yang tiada henti,” katanya.
“Ketika saya merasakan sakit, orang lain merasakan sakit yang sama dalamnya.”
Korea Selatan, sekutu pendukung internasional terbesar Israel, Amerika Serikat, umumnya mempertahankan sikap seimbang terhadap konflik di Timur Tengah, tanpa mendukung salah satu pihak dalam konflik tersebut.