CARAPANDANG - Calon Kanselir Jerman dari Uni CDU/CSU, Friedrich Merz, menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini "dipermalukan" (humiliated) oleh kepemimpinan Iran. Pernyataan keras ini disampaikan Merz dalam pidatonya di Bundestag, Selasa (28/4/2026), sebagai respons terhadap eskalasi ketegangan AS-Iran pasca penolakan Washington terhadap proposal perdamaian Teheran.
"Yang kita saksikan adalah sebuah negara adidaya yang secara sistematis dipermalukan oleh rezim di Teheran. AS telah menunjukkan kelemahan dalam negosiasi, dan Iran memanfaatkannya sepenuhnya," ujar Merz di hadapan para anggota parlemen.
Merz mengkritik pendekatan pemerintahan Trump yang dinilainya inkonsisten. Menurutnya, kebijakan AS yang fluktuatif—kadang agresif, kadang tiba-tiba menawarkan negosiasi tanpa prasyarat yang jelas—justru memberikan ruang gerak bagi Iran untuk terus memajukan program nuklirnya.
"Tanpa tekanan kredibel, tanpa ancaman nyata, maka Iran tidak akan pernah duduk di meja perundingan dengan itikad baik. AS sekarang membayar harga atas ketidakjelasan strateginya," tegasnya.
Merz menyerukan Eropa untuk tidak sekadar menjadi penonton. Ia mengusulkan tiga langkah konkret yang harus segera diambil Uni Eropa:
1. Mengaktifkan mekanisme "snapback" sanksi PBB terhadap Iran yang sempat ditangguhkan pasca kesepakatan JCPOA 2015.
2. Menjatuhkan sanksi independen Eropa terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara penuh.