CARAPANDANG - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik atau "lahsamor" sebagai alternatif penanganan masalah sampah di Pulau Bali.
“Hari ini tadi ya apel pemilahan sampah karena kuncinya itu memang di pemilahan organik anorganik, nah ini ada alat, ini buatan BRIN,” kata Zulkifli di Denpasar pada Selasa.
Dalam Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon itu, Zulkifli meninjau langsung proses kerja "lahsamor", yang dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga setiap hari.
Dengan teknologi berbahan dasar drum itu, maka 40 persen sampah harian rumah tangga bisa ditekan masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA), kendati masih terbatas pada penggunaan skala rumah tangga.
“Alatnya kecil tapi ini bisa mengolah 1 kg per hari, 3 tahun tidak penuh-penuh, tapi saya minta juga yang agak besar. Bisa untuk misalnya 50 kg ya. Jadi 50 kg untuk satu sekolah itu pas,” ujar Menko Bidang Pangan.
"Lahsamor" sendiri digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Inovasi itu tidak dimaksudkan untuk mengganti inovasi lainnya seperti teba moderen di Bali, melainkan alternatif pendukung bagi masyarakat yang tidak memungkinkan membuat teba di pekarangan.
Teknologi ini bekerja dengan cara memasukkan sampah organik busuk 0,5 kg hingga 1 kg per hari kemudian memutar tuas sebanyak lima kali.