Seiring waktu, ekspansi tak berhenti. Akuisisi besar seperti Pixar (2006), Marvel Entertainment (2009), Lucasfilm (2012), dan 20th Century Fox (2019) menjadikan Disney sebagai raksasa media global yang tak tertandingi. Platform streaming Disney+ yang diluncurkan pada 2019 menegaskan dominasi mereka di era digital, dengan jutaan pelanggan dari seluruh dunia hanya dalam waktu singkat.
Komik & Animasi
Kini, The Walt Disney Company mengoperasikan taman hiburan di empat benua, ratusan kanal TV, waralaba film berpendapatan triliunan rupiah, dan merchandise ikonik yang menjadi bagian dari masa kecil banyak generasi. Siapa itu Walt Disney, jika bukan pendiri dari seluruh imperium hiburan ini?
Meskipun perusahaan terus berkembang dan bertransformasi, nilai-nilai awal Walt—imajinasi, keluarga, dan harapan—masih melekat kuat dalam DNA perusahaan.
Imagineering: Menciptakan Dunia yang Tak Pernah Ada
Walt tak pernah puas berhenti di film. Ketika studio lain bersaing soal box office, ia memikirkan taman hiburan. “Aku ingin tempat di mana orang tua dan anak-anak bisa bersenang-senang bersama,” katanya.
Seni & Hiburan
Pada 1955, Disneyland dibuka di Anaheim, California. Bukan sekadar taman bermain, tapi dunia imajinasi nyata yang hadir lengkap dengan kastil Cinderella, bajak laut Karibia, dan Tomorrowland. Orang menyebutnya gila, lagi-lagi. Tapi antrian tiket membuktikan: dunia haus akan mimpi.