Puncaknya datang ketika PSV Eindhoven memberikan kesempatan untuk bergabung. Di klub Belanda tersebut, Saibari berkembang menjadi gelandang modern yang mampu menyerang sekaligus bertahan. Ia tidak lagi dikenal sebagai pemain yang pernah ditolak karena kondisi fisiknya, melainkan sebagai salah satu talenta paling menjanjikan yang dimiliki Maroko.
Ironisnya, negara yang menjadi tempat ia berkembang justru menjadi lawan yang kemudian ia singkirkan di Piala Dunia.
Penalti yang Menghapus Semua Keraguan
Laga Maroko melawan Belanda di Piala Dunia 2026 menghadirkan drama yang sulit dilupakan. Pertandingan berlangsung sengit hingga harus ditentukan melalui adu penalti.
Di tengah tekanan luar biasa, Saibari maju sebagai salah satu eksekutor. Situasi seperti itu sering kali menjadi mimpi buruk bagi pemain mana pun. Satu kesalahan dapat menghapus seluruh kerja keras tim.
Namun Saibari menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Tendangannya sukses menaklukkan kiper Belanda sekaligus memastikan Maroko melangkah ke babak berikutnya.
Yang terjadi setelahnya jauh lebih menyentuh daripada gol itu sendiri.
Ia tidak berlari ke arah rekan setim atau kamera televisi. Langkah pertamanya justru menuju tribun tempat ibunya menyaksikan pertandingan. Pelukan panjang yang terjadi di sana menjadi simbol kemenangan yang sesungguhnya.