Menurut Sena, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa riwayat stroke dalam keluarga memang dapat meningkatkan risiko. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa sekitar 20 persen pasien stroke memiliki anggota keluarga yang juga pernah mengalami kondisi serupa.
“Dan itu menunjukkan bahwa ketika ada orang tua yang mengalami stroke, maka penting sekali untuk keturunannya, anak-anaknya itu, untuk menjaga pola hidupnya, mendeteksi dini faktor risikonya,“ ujar dia.
Sena juga menyoroti meningkatnya jumlah kasus stroke dalam beberapa dekade terakhir. Menurut dia, hal itu bisa dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan serta kemajuan teknologi yang membuat deteksi kasus menjadi lebih baik.
“Memang stroke ini menjadi suatu tantangan ya. Saya masih ingat ketika mungkin 20 tahun lalu itu semboyannya masih kayak kita bilangnya ‘satu dari enam’ akan mengalami stroke. Tapi kalau sekarang bahkan bisa ‘satu dari empat’, artinya itu semakin banyak,” imbuh dia.
Selain faktor deteksi yang semakin baik, perubahan gaya hidup modern juga dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke. Pola makan yang bergeser dari makanan alami ke makanan ultra-proses, minimnya aktivitas fisik, hingga kebiasaan merokok menjadi faktor yang patut diwaspadai.
Tak hanya itu, tekanan mental dan stres yang muncul di era media sosial juga disebut turut berpengaruh terhadap kesehatan pembuluh darah.