Pada 1975, Buya Hamka dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Masa kepemimpinannya ditandai dengan upaya menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah arus modernisasi.
Ia berani mengambil sikap tegas, termasuk mengeluarkan fatwa haram untuk merayakan Natal bersama umat Kristiani, yang kala itu menuai pro dan kontra. Keputusan-keputusan ini menunjukkan keteguhan prinsipnya, meski tak jarang mengundang kritik dari berbagai pihak.
Karya-Karya Besar Buya Hamka
1. Novel Terkenal
Sebagai sastrawan, Buya Hamka meninggalkan warisan karya sastra yang abadi. Salah satu novel terkenalnya adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang mengangkat kisah cinta tragis dengan latar adat Minangkabau dan kritik sosial terhadap diskriminasi. Novel ini hingga kini menjadi bacaan wajib dalam dunia sastra Indonesia.
Selain itu, karya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Merantau ke Deli juga mencerminkan kemampuannya memadukan pesan moral dengan alur cerita yang menyentuh hati.
2. Karya Keislaman dan Tafsir Al-Azhar
Di bidang keislaman, karyanya yang monumental adalah Tafsir Al-Azhar. Ditulis saat ia dipenjara pada era Orde Lama, tafsir ini menjadi rujukan penting umat Islam di Indonesia.
Gaya penafsirannya menggabungkan pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an dengan konteks sosial-budaya masyarakat Nusantara.