Peserta harus mengubah kebiasaan menulis menggunakan pena atau pensil menjadi menggunakan kuas. Mereka juga perlu mempelajari cara mengendalikan kuas, mengatur ketebalan dan kelembutan goresan, memahami aturan setiap goresan dasar, hingga mempelajari struktur, keseimbangan, dan komposisi karakter.
"Kaligrafi mengajarkan kita untuk menyelaraskan pikiran, perasaan, dan gerakan tangan secara utuh," ujarnya. "Itu membutuhkan waktu yang tidak singkat."
Workshop ini merupakan kolaborasi kedua antara Sheren dan GBTI, meski bukan agenda rutin. Dalam workshop ini, Sheren memperkenalkan Kăishū sebagai gaya tulisan yang dipelajari peserta. Menurutnya, Kăishū merupakan salah satu gaya dasar yang umum digunakan untuk belajar karena bentuk aksaranya paling familier.
Kăishū memiliki banyak aliran yang berkembang dari para maestro kaligrafi terdahulu, sehingga setiap kaligrafer memiliki karakter goresan yang berbeda meski menulis aksara yang sama. Sheren mengaku saat ini masih fokus mendalami Kăishū, karena dia meyakini penguasaan dasar yang kokoh pada gaya ini menjadi fondasi utama untuk mengeksplorasi aliran kaligrafi lainnya di masa mendatang.