Dia pun menilai bahwa semangat tersebut sejalan dengan program Asta Cita pemerintah yang menitikberatkan pada pembangunan berkelanjutan, penguatan sumber daya manusia, serta partisipasi masyarakat dalam menghadapi persoalan sosial dan lingkungan.
Ia juga menekankan pentingnya peran perempuan muda dalam mengawal kebijakan publik yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Perempuan muda di Nasyiatul Aisyiyah harus punya agenda dan formula untuk mempengaruhi kebijakan, mulai dari perda, peraturan wali kota, peraturan gubernur, hingga memonitor berbagai kebijakan publik. Mereka bisa menjadi pemimpin akar rumput,” tegasnya.
Menurutnya banyak persoalan di daerah yang membutuhkan keterlibatan masyarakat sipil, terutama terkait pemberdayaan perempuan, pendidikan, kepemudaan, dan pembangunan daerah.
“Banyak pengaduan masyarakat yang masuk, dan itu bukan sekadar keluhan biasa. Ada persoalan kompleks di berbagai daerah yang membutuhkan perhatian bersama. Kita punya tanggung jawab di sana,” ujarnya.
Karena itu, Syauqi berharap Nasyiatul Aisyiyah yang berdiri sejak 16 Mei 1931 terus memperkuat kontribusinya, tidak hanya untuk persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga bagi masyarakat luas dan keberlanjutan lingkungan.
“Negeri ini membutuhkan partisipasi kita semua. Ini waktunya mengambil kontribusi. Saya berharap Nasyiatul Aisyiyah bisa memberikan yang terbaik bukan hanya untuk persyarikatan, tetapi juga untuk semesta,” harapnya.